#2 GRAVITASI HUJAN 

___

Dugaanku benar kau nyata. Tidak lagi yang bertahun-tahun hanya berada di ruang koordinasiku. Aku jelas bisa melihat bayanganmu utuh tertutup rimbun pohon. Ini kali pertama mataku menangkap objek lalu menerjemahkan dengan sempurna seluruh wujud fisik dari pantulan cahaya tepat di retina. Sepertinya hari ini akan turun hujan, tetapi mengapa tubuhku merasa begitu gerah dan mataku terasa begitu panas. Tidak. Bukan hujan dari mataku yang kuinginkan.

Basah. tanganku kini mencoba membendung tetes namun tak terbendung. Kubiarkan semuanya berjalan apa adanya. Termasuk hari ini.

***

Pukul 01.00 A.M

Mimpi buruk merusak tidurku malam ini. Kulirik jam dinding berwarnakan gelap, karena malam menghalangi matahari untuk memberinya sinar. Sebaiknya aku menulis beberapa paragraf, mungkin akan membuat mataku merasakan kantuk.

Setelah 30 menit berada di bawah sinar lampu meja, menulis tengah malam memberikan sensasi tersendiri. Jangkrik yang berpesta sementara manusia diluar sana tertidur pulas. Katak saling berbalas sambil sesekali beriringan dengan jangkrik. Aku tak tau apakah benar-benar berpesta ataukah jangkrik ketika mengobrol suaranya memang seperti lagu pengantar tidur. Aku paham, mungkin seharusnya memang seperti itu, jangkrik sebagai pengganti lagu pengantar tidur untuk manusia. Manusia tertidur dan jangkrik bernyanyi. Simbiosis mutualisme.

***

10 tahun yang lalu….

Razan dan aku hidup di kompleks perumahan yang sama. Rumahnya hanya berjarak dua rumah dari kanan rumahku. Ibunya dan Ibuku adalah sahabat sejak sekolah walaupun berbeda tempat kuliah. Waktu itu, Ayahku bekerja sebagai penjaga lapas di kota. Ia melakukannya tanpa sedikitpun mengeluh. Walaupun aku tau, itu tidak mudah baginya untuk berangkat pagi lalu pulang malam. Ibuku setia untuk menunggu suaminya.

Om Fatah demikian Razan memanggil ayahku. hubungan mereka cukup dekat untuk kalangan tetangga. Lima kali seminggu Razan akan mampir kerumah. Yah, aku dan Razan waktu itu belum cukup akrab, malah sering bertengkar. Entah apa yang membuatnya tertarik sehingga dia harus terus-menerus membuka jendela rumahku menggunakan obeng miliknya. Padahal, dia bisa saja mengetuk pintu dan aku dengan senang hati akan membukakannya.

***

Suatu hari, ayahku berangkat untuk kerja. Dengan cekatan ibu mempersiapkan bekal untukku dan sarapan untuk ayahku.

“Apakah ibu butuh bantuan?” Aku menawarkan diri karena kasihan melihat ibuku yang sibuk sendiri.

“Ah, tidak usah nak. kamu ambil buku diatas lemari dekat tv. Tadi Ibu meletakkannya disana” Dengan suara sedikit tersengal, Ibu merapikan sarapan di atas meja.

“Buku apa? Aku tidak pernah minta dibelikan buku?” Pikirku sedikit kebingungan, lalu kuputuskan untuk mengamini perintah Ibu.

“Sudah dapat ana?” sahut Ibu sedikit penasaran.

“Iya bu!”Kubalas segera penasaran Ibu.
Terdengar bising mesin dari bagasi rumah. Ayahku biasa menyalakannya terlebih dahulu sebelum berangkat kerja. Dan aku cukup berjalan, sekolahku dekat dari rumah.

“Aku berangkat dulu Ibu-Ayah, Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam, hati-hati nak”Suara Ayah dan Ibu menyatu.

“Berangkat juga bu, Assalamualaikum” Ucap Ayah

“Waalaikumsalam, hati-hati mas”Sambil mencium punggung tangan Ayah, lalu ruang menyisakan Ibu dan hembusan angin. Semuanya berjalan indah bagi Ibuku. Memiliki anak dan suami yang membahagiakan imannya.

***

Telfonku berdering dan aku tak menyadari. Bising kelas menutupi telingaku dari suara disekitar.

Aku memutuskan keluar kemudian menerima telfon. Ini dari nomor yang tidak kuketahui.

“Assalamualaikum”jawabku tanpa ragu

….

***

Hari itu sepertinya menjadi guncangan terbesar dalam hidupku. Aku kira waktu memberikan pagi yang indah hingga esok tiba. Ternyata sedetik yang menyenangkan semenit menguras air mata.

Aku tidak bisa merasakan tanganku lagi, semuanya tak sanggup aku sentuh. Handphone terjatuh menabrak lantai, kemudian berserakan. Suara itu mampu melumpuhkan sebagian tubuhku.
Rumah sakit benar-benar menjadi tempat orang-orang yang sakit, bagaimana tidak Ayahku yang baru saja terlihat di pintu rumah kini berbaring bersimbah darah. Namun, bukan hanya itu yang menambah parah hancurnya hatiku. Orang yang menelfonku adalah Ibu Razan, ia mengatakan Ayah Razan meninggal karena kecelakaan yang diakibatkan oleh Ayahku.
Aku bergegas pulang dari sekolah menuju rumah sakit. Aku sudah kehilangan kesadaranku, hingga Ibupun tak lagi kupedulikan. Setibanya di rumah sakit, mataku berkeliaran mencari-cari keberadaan Ibu Razan. Kutemui Razan yang terduduk tanpa berkedip di lorong rumah sakit tepat di depan kamar mayat.

“R.a..zan?” Sahutku pelan menahan air mata mendapati situasi yang sangat rumit kuhadapi kali ini.

Razan melihat kepadaku kemudian tertunduk. Lalu air mata perlahan membasahi.

Lorong seketika lengang diisi isak tangis dua orang manusia yang kini merindukan hujan.
Bagaimana kau akan bertindak ketika umurmu masih 10 tahun. Kemudian, dihadapkan disituasi seperti ini? Ayahmu mengalami pendarahan di kepala akibat kecelakan yang dialami. Tetapi, juga ada nyawa yang dicabut paksa karena kecelakaan yang diakibatkan oleh Ayahmu. Dan orang itu adalah Ayah dari teman kecilmu. Apakah hujan mampu menghanyutkan sebagian hatiku yang hancur? Ternyata kejadian itu belum cukup memuaskan semesta untuk menghancurkan hati anak berumur 10 tahun.

Sejak itu, Ayahku semakin sering mengunjungi Razan. Dari dulu Razan ingin menjadi seorang arsitek. Itu setiap hari dikatakan kepada Ayah dan Ibunya. Namun akibat kecelakaan merenggut nyawa Ayahnya, cita-cita itu terpaksa dikubur dalam-dalam. Ibunya hanya penjahit biasa, penghasilannya hanya cukup untuk makan saja.

Tiba suatu malam di meja makan, saat itu hujan cukup lebat, turun beserta petir yang menambah kengerian.

“bu, izinkan aku menafkahi Razan?”

Seketika kalimat itu mengambil semua oksigen yang berada diruangan. Sesak memenuhi dada Ibuku. Begitupun denganku.

Ayahku memutuskan menikahi Ibu Razan karena rasa bersalahnya. Ia tak tenang mengetahui kenyataan ia telah membunuh masa depan seorang anak.

“Bagaimana mungkin hatiku mampu berbagi surga dengan orang lain?” Dengan menahan isak Ibuku berusaha merangkai kalimat keluar dari mulutnya.

Aku terdiam menatap kosong, hilang sudah selera makan yang sedari tadi ku inginkan masuk ke perutku.

“Aku tau bu, ini keputusan sulit bagiku. Tetapi tidurku tidak akan nyenyak jika aku tidak mengambil keputusan ini” kata Ayahku mencoba menenangkan hati.

Ayahku adalah alumni pesantren di kotanya Aceh, Ia sudah paham betul mengenai agama. Ibuku pun sama, ia sangat religius walaupun bukan dari pesantren.

“Silahkan, aku tau berbagi surga tidak pernah menyenangkan mas. Aku mencintaimu karena Allah dan Aku merelakanmu karena Allah” Dengan susah payah mengatur napas, air mata terus mengalir dimatanya, Ibuku menenangkan dirinya dan mulai tersenyum walaupun ia tak bisa berbohong kalau itu senyum palsu.
Tak berlangsung lama Ayahku menikahi Ibu Razan. Hanya pernikahan sederhana di Masjid, disaksikan hanya dari keluarga saja.

Ibuku memutuskan Razan dan Ibunya ikut pindah dengan Ayahku. Waktu itu Ayah pindah tugas ke Bandung. Aku tau maksud Ibu, ia mencoba menyembuhkan hati dengan caranya sendiri. Ia membiarkan sebagian hatinya pergi dengan yang lain karena terlalu sakit baginya melihat pemandangan itu setiap hari. Dan, Ibuku pun mengizinkan Ayahku pulang kerumah jika ia ada waktu.

***

10 tahun kemudian
Kehidupan Razan dan keluarga barunya berjalan semestinya. Razan diterima kuliah di ITB mengambil jurusan Arsitek dan sudah masuk semester kelima. Namun, disisi lain Ayahku dan sekarang juga Ayahnya tengah menjadi langganan rumah sakit. Ayahku rutin cek kesehatan akibat kecelakan yang dialami dulu. Tetapi kesehatannya pun sudah terlihat membaik walaupun sudah tak bekerja sekeras dulu.
Aku dan Ibu juga baik-baik saja. Kegiatan di kampus membuatku semakin melupakan kejadian 10 tahun lalu.

“buuuuu!” Teriakku sambil berlari memasuki pintu rumah

“eh, kamu manusia apa bukan? masuk-masuk saja gak pake salam”celoteh ibu nampak kesal.

“hehe, maap bu tapi aku laper banget”Bujuk ku dan memegangi perut yang sedari tadi tak terisi asupan makanan dari rumah.

“dasar kamu, makan sana. Ibu angetin sayur dulu” kata Ibu lalu mengambil sayur yang diletakkan di kulkas.

Sehabis makan aku membereskan rumah dan berlaru ke kamarku. Hari ini cukup melelahkan, kubaringkan sejenak tubuhku lalu menunaikan kewajibanku. Selepas itu aku memilih untuk tidur.
Malam tiba, hujan tinggal sebulan lagi. Kupandangi langit dari luar jendela kamarku, dulu hujan mengingatkanku atas peristiwa pedih yang kupikir tak sanggup aku lalui, lihatlah sekarang aku sudah berumur 20 tahun. Aku mulai berpikir lagi, benarkah hujan berarti menyenagkan bagiku atau menyedihkan? diwaktu bersamaan hujan menjadi saksi bisu kepedihan dan kebahagiaanku. Alasanku menunggu kehadiranmu sampai saat ini tak kutemukan. Kau tak beralasan. Tiba-tiba aku teringat percakapan tentang laki-laki yang berkunjung kerumahku. Apakah dia yang datang, tapi mana mungkin dia? Kuharap halusinasi yang kualami berkurang. Lihatlah, kemarin aku melihatnya duduk di cafe dekat kampusku. Aduh, kurasa aku mulai gila.
***
Pagi menyapa kuambil hijab lalu kubereskan kamarku. “Eh? kok buku ini beneran ada? jadi tadi itu bukan mimpi?”Mataku terbelalak, terdiam. Lalu dengan penasaran kulangkahkan kaki kearah jendela kamarku. Sedetik kulirik dream catcher dari Razan.
Pukul 6.30 A.M Bulan terakhir musim kemarau.

Sempurna mematung. Jadi kegilaan yang kemarin kurasakan bukan halusinasi. Jendela yang kupikir itu kamu, ternyata bukan bualan. Lelaki yang mengunjungi Ibuku lalu bercerita perihal Ayahku itu bukan fiksi. Dan kamu ? Kamu bukan ilusi yang kuciptakan. Kamu nyata.

***

Tidak salah lagi, aku segera berlari menuju halaman belakang rumahku. Dengan buku bersampul biru yang tergenggam erat di tanganku. Langkahku terhenti tepat 100 meter darinya. Sesekali aku menghapus air mata di pipi, sambil berjalan menemui kakimu berpijak. Namun, kau menemui ku terlebih dahulu. Tepat di hadapanku.
Kuharap hujan turun saat ini, kubiarkan ia menjadi saksi bisu. Sehingga aku tak perlu merenung tanpa alasan yang tak kunjung kuputuskan apakah tetes hujan membahagiankanku atau sebaliknya. Dan, saat ini kupastikan hujan menarikmu hingga sejauh ini mengarah kepadaku. Aku bahagia.

***

Bukan kamu saja yang bahagia. Bahagiaku lebih besar darimu. Hujanmu tak lagi kesepian. Aku siap menemani hadirnya bersamamu. Kau tau? berada di posisiku mungkin tidak lebih sulit daripada apa yang kau hadapi dulu. Tetapi, menjadi tokoh yang memberikan kesulitan bagimu sungguh menguras hatiku.

Semesta baik dengan hujan yang mempertemukan manusia. Begitupun manusia, semoga kalian memaknai hujan bukan tentang dinginnya saja.

The End-

Gravitasi Hujan

jejak kaki bisa tertinggal tapi hujan bisa menghilangkan jejak. terik matahari bisa membakar seribu pohon tapi hujan bisa menghidupkan lebih dari 1000 pohon. kenangan bisa jadi aku lupa, tapi hujan mampu menjatuhkan beribu kenangan yang terlupa.

____

Jendela kaca dipenuhi tetes hujan yang tak terhitung memenuhi kaca, menghalau setiap pandangan. Balita terkesima menyaksikan air tumpah ruah dari langit. Mungkin otaknya bertanya-tanya darimana air yang begitu banyaknya memenuhi ruang, yang padahal baru saja air dimasukkan ke perut mungilnya. Mataku memperhatikan dengan tidak jelas setiap kegiatan ketika hujan mendera. Tapi sepertinya, sebagian otak tidak begitu peduli dengan hujan yang bahkan bertahun-tahun kupelajari tetapi otakku tidak mampu menerima fakta turunnya air dari langit.

Jika kau suka hujan dengan alasanmu sendiri, berarti diluar sana banyak yang sepertimu. Namun, jika kau suka hujan tanpa alasan sama sekali mungkin aku akan menyukaimu karena sebagian orang memilih untuk sama. Dan, aku sepertinya berbeda. Jika benar begitu, aku bisa memastikan hujan masih menjadi mata kuliah yang tak henti kau pelajari hanya saja jadwalnya musiman.

Akan kujelaskan lebih jauh….
Bisakah kau sekedar memberi tanggapan kepadaku?
Apakah hujan bisa turun ketika dipanggil?
Dengan bahasa isyarat mungkin?

Umum. Pawang hujan. Aku tau jika jawaban yang kau beri seperti itu. lebih dari 100 orang menyebutkan jawaban yang sama. Puh.
Banyak pertanyaan yang tidak mampu kupecahkan sendiri, mungkin mendapatimu memiliki pikiran berbeda akan lebih menyenangkan. Yaitu, sepasang manusia yang memiliki kesamaan perbedaan tentang hujan. Ini mulai terdengar seru.

***

Alhadna dari bahasa Arab berarti merenung. Namaku Hadna. Ibuku memberikan nama yang hampir sepenuhnya sesuai denganku. Aku suka itu walaupun terdengar sedikit aneh. Kesannya hidupku kerjanya cuma merenung. Aku juga remaja biasa seperti kalian, hanya saja ketika hujan turun waktuku lebih banyak di depan kaca jendela, itupun bukan semata-mata merenung menghabiskan waktu dan sia-sia aku hanya memaknai cara Tuhan menurunkan air dari langit.

Kuharap beberapa dari kalian tidak menyimpulkan sesuatu dari apa yang mata kalian lihat, cobalah lebih dekat karena tidak semua manusia itu asli. Kadangkala topeng menjadi kewajiban untuk tak terlihat menyedihkan, termasuk aku. Lagipula apa ada yang aneh dengan merenung? Memangnya merenungi nikmat hujan tindakan yang salah?

***

“Anaa!” Teriak Ibu membuyarkan fokusku pada satu buku.
kulepaskan headphone lalu buku kubuang sembarangan, dan bergegas berjalan turun menuju sumber teriakan tadi.
“Iya bu, malam begini kenapa teriak-teriak lagi?” Kataku dari jarak 100 meter.
“Itu jendela belum kau tutup, musim hujan tinggal sebulan kau tau kan? jangan lupa-lupa lagi tutup jendela, nanti sofa sama buku basah semua kena air hujan” Perintah ibu dengan nada lembut.
Ibuku bukannya lemah-lembut, hanya saja batas kelantangan suaranya memang sebatas itu. Itu sudah yang paling keras menurut Ibuku, tetapi yang aku dengar seperti orang berdiskusi.
“Perasaan tadi aku udah tutup” Gumamku dalam hati.
Sambil mengunci rapat jendela aku sesekali melirik keluar. Hampa. Hanya gemuruh pohon yang terdengar tertiup angin malam.
Karena penasaran aku mendekati Ibu dan bertanya
“kenapa lagi? jendela sudah kau tutup?” Eh..! tiba-tiba ibu mengagetkan aku dengan pertanyaan yang seharusnya aku yang mengajukan kenapa malah dia.
“eh. Iya bu sudah tuh liat udah terkunci rapat” Aku mencoba mencairkan suasana
“yaudah, pergi tidur sana, udah malam” Sahut ibu.
“eh, aku mau nanya dulu bu. Tadi ada tamu yang datang kerumah bu?” Tanyaku pelan.
“Iya emang kenapa? cowok tuh, katanya ada penelitian tugas dari kampusnya” Kata Ibuku.
Dahiku tiba-tiba mengkerut membuat mataku terlihat seperti orang yang sinis.
“Oh gituu, yaudah aku tidur dulu ya bu. selamat malam bu” Sambil kepeluk ibuku lalu berlari cepat menuju kamar.

Ada apa penelitian di rumah yang berpenghuni hanya 2 orang saja? Aku mencoba mengingat-ingat sesuatu tetapi otakku saat itu benar-benar buntu untuk berpikir. Ini bukan kali pertamanya aku mendapati jendela yang terbuka. Ini persis seperti kejadian 10 tahun yang lalu. Berulang-ulang, sampai sudah kuhafal pola yang terjadi setiap hari. Aku membalikkan badan dan kepejamkan mataku hingga malam membenamkan lelapku.
Ketika bulan berganti mentari, menghiasi wajahku dengan sinar hangat. Hei! seharusnya mentari menghiasi wajahku saat itu. Tapi coba tebak? Mataku terbuka dan mencoba mencari apa yang sedang terjadi. Didepan sana terlihat buku bersampul biru muda terpajang di jendela tepat menutupi wajahku saat itu. Ini buku yang kuberikan kepada Razan 10 tahun yang lalu dan bagaimana bisa berada di tanganku sekarang?

***

Siang ini terasa begitu terik. Mungkin musim penghujan sudah mulai tiba. Aku tidak sabar mengulang kenangan denganmu pada saat itu. Jalan yang dulu terlihat lebar kini semakin kecil saja. Aku sudah tumbuh dewasa bukan lagi Razan yang selalu mencuri-curi pandang kemudian membuka jendela rumahmu dengan obeng.
Aku tiba di salah satu tempat yang menjadi saksi bisu hidupku kala itu. Tidak jauh berbeda 10 tahun lalu, jendelanya masih sama tidak berubah tempat. Hanya saja kokohnya sudah mulai berkurang, terlihat beberapa yang sudah lapuk dan sebagian sudah pudar warnanya.
“suara khas bel rumah” 2 menit menunggu pintu dibuka oleh seorang ibu, mungkin umurnya sekitar 45 tahun dia nampak masih muda dengan pakaian menutupi tubuh dan hijab yang terpasang syar’i.
“Assalamualaikum bu…” Sapaku dengan penuh sopan santun.
“Waalaikumsalam, cari siapa nak?” Tanya ibu.
Aku terhenti berucap, lalu mengernyitkan dahi dan mulai memberi kode sambil sesekali menampakkan kebiasaan menggaruk kepala walaupun tak terasa gatal sama sekali. satu menit belum membuat ibu menyadari kehadiranku. Aku mulai memberi senyuman kepadanya.
Wanita berumur 45 tahun terlihat bingung dan mulai mengingat sesuatu.
“Oalah Razan? nak Razan? kapan kamu kesini? Pangling ibu liat kamu udah beda” Saking antusiasnya Ibu memelukku erat tanda rindunya padaku.
“Iya bu, baru aja tiba tapi jalan-jalan sebentar liat lingkungan sekitar sini. ternyata gak banyak perubahan” Jawabku polos.
“Oh yaudah masuk nak, biar aku panggilkan ana dulu. Semenjak kamu pindah dia gak pernah duduk dekat jendela lagi” Sahut ibu sambil berjalan menaiki tangga.
“Gausah bu, aku cuma bentar kok. Aku ada penelitian dari kampus, kebetulan tempat aku searah jadi aku sekalian singgah” Pintaku agar tak repot-repot. Walaupun ada sedikit rindu kepada ana sudah lama tak pernah berkomunikasi, namun mentalku belum siap untuk bertemu.

15 menit berlalu, ruangan hanya berisi suara ibu dan aku. Bercerita tentang sakit ayah, dan beberapa pembicaraan lainnya. Tak jarang aku melihat jendela dibelakangku, kubuka pelan, sepertinya jendela ini tidak pernah disentuh. Lalu kubiarkan dan kembali berbincang. Petang sudah mulai nampak waktunya aku pamit dan pergi. Sepertinya aku akan kembali kesini lagi.

***

Pagi itu udaranya sangat sejuk dengan sepoi-sepoi angin meniup rambut. Buku bersampul biru ini mengingatkanku tentang dia. Dulu, ketika musim penghujan tiba Ana akan menghabiskan waktunya didepan jendela. Dia sama sepertiku menyukai hujan dengan makna masing-masing. Kami saling bertanya kala itu mengenai hujan.
Hujan yang sama sekali tidak romantis, hujan yang tidak membenamkan bumi, hujan yang menghangatkan sebagian orang.
Dia pernah menanyakan arti dari namaku. Razan. Ayahku yang memberi nama katanya artinya tenang. Yah kuharap begitu. Mampu membuatnya tenang ketika berada didekatku itu suatu tujuan bagiku. Aku tidak ingin menjadi kebanyakan orang yang memiliki cita yang tinggi. Bagiku menjadi alasan kepulangan seseorang adalah sesuatu yang tak pernah bisa dibandingkan dengan materi dunia. Namun, semua itu sepertinya tidak benar-benar terjadi padamu. Bukannya aku membuatmu tenang ketika kau dirundung sedih yang tak berkesudahan, malah aku meninggalkanmu bersama dengan janji yang tak sejalan.

Kusadari itu, bertemu denganmu saat ini pun rasanya seperti mencari jalan keluar di labirin tak berpintu. Kuharap kau tidak membenciku karena meninggalkanmu dahulu. Bukan keinginanku tidak menepati janji, hanya saja waktu tidak mampu kutangani. Umurku terlalu muda untuk mengambil keputusan. Bahkan kedatanganku sekarang bukan karena penelitian dari kampus itu hanya alasanku saja. Aku ingin bertemu denganmu.

jika itu memungkinkan maukah kau menghapus kejadian kemarin? Hapuslah kenangan yang membuatmu tak tenang yang justru datang dariku, aku tidak ingin melihatmu hidup tanpa antusias yang kemarin kau miliki. Itu salahku dan aku ingin menebus kesalahan yang kemarin.
Ayo lihat hujan dari balik jendela bersama lagi.
Bertanyalah sepuasmu, aku akan menjawab.
Menangislah semaumu, aku siap menjadi tempat bersandarmu.
Jika marah menjadi obat sakitmu, makilah aku sekuat yang kau inginkan.
Aku akan mendengarkanmu setiap luka yang kutinggalkan kemarin.
Selepas itu, biarkan aku memelukmu berbagilah denganku semua sakit yang kau rasakan aku akan menanggungnya dan menenangkanmu lagi seperti 10 tahun terakhir.
Jika kesempatan bagiku masih ada, bangunlah dari tidurmu. Jendelamu masih sama Ana, kau bahkan tak membuang dream catcher berwarna putih yang kuberikan. lihatlah kebawah. Maaf karena menghalangi mentari pagimu. Tapi semoga kau mengizinkan kakimu berlari kearahku.

***

Jendela tak lagi kesepian dengan rintik hujan. Sepasang tangan saling merangkul. Semoga hujan memaknai hidup setiap manusia yang menghargai tetesnya.


To be continued~

Aku dan Dunia

Aku pernah begitu keras mengejarmu hingga hayalan memenuhi ruang di kepalaku. Setiap saat. Tanpa henti. Dan, ketika sinar pagi berhasil menembus tembok kamar yang terlintas tetap sama. Senyum yang terukir di sudut bibir ini akibat pengaruh bawah sadar yang tidak bisa ku cegah. Andai aku bisa menuntut, hal itu sungguh melanggar hak asasiku sebagai manusia yang berhak mengambil keputusan. Tetapi lupakan, bagaimana bisa kumenuntut tubuh yang sama. Apakah mereka akan percaya bahwa senyuman ini seenaknya saja membentuk setengah lingkar di wajahku tanpa meminta izin dari pemilik senyum? ini sungguh tidak masuk akal, aku bisa merasakan itu.

Hari dimana janji-janji itu sempurna membiarkanku terus berlari. Walau aku tidak yakin akankah kutemukan titik henti.
Saat itu, keinginan akan dirimu tidak pernah ku tolak. Melihat sebagian orang bergandeng tangan. Entah itu teman, sahabat atau bahkan lebih dari sahabat, mereka saling mengisi canda bergantian tertawa. Aku memandangi setiap panorama yang disajikan di hadapanku, sesekali terhenti pada satu bagian yang saat ini kukejar. Senyum itu terukir lagi, namun berbeda dengan hatiku. Bahkan diriku sendiri tidak bisa menebak apa sebenarnya keinginanku. Perbedaan yang saling membela ini membuat semangatku seperti sedang beradu gengsi.

Apakah kamu tau benda semacam roller coaster? jika kamu bisa mendefinisikan perasaan macam apa yang aku alami. Mungkin roller coaster perumpamaan yang tepat. Aku bisa menebak bahwa didepan sana ketinggian menungguku untuk ku lintasi, aku bahkan sangat mudah menebak bahwa didepan sana juga aku akan melawan arus angin. Tetapi daripada semua itu, aku tidak bisa menebak bagaimana seharusnya sikapku menghadapi ketinggian itu, aku tidak bisa mengatakan hal yang pasti walaupun aku bisa melihat dengan jelas tujuan dari permainan ini.

Sebagian besar kumpulan cerita yang hadir di kisahku, tidak lain karena tingginya egoku untuk memilikimu. Bahkan ketika aku benar-benar putus asa dengan diriku, aku masih tetap mengandalkan semua darimu. Lagi-lagi menggantungkan semuanya padamu. Seolah-olah kau pantas diandalkan.

Setiap keluh kesah yang ku lontarkan, rintihan tangis, bahkan bahagiaku kamu masih menjadi ruang paling favorit untuk kujadikan pelampiasan. Kisah ini makin terlihat tak menentu. Aku mengejar hal yang sama, hal yang aku tangisi justru apa yang aku kejar selama ini. Ini terlihat lucu bukan? mengejar apa yang membuatmu terobsesi, menangisi obsesi yang kamu kejar, melampiaskan obsesi yang kamu tangisi, dan mengadu atas apa yang mengobsesi dirimu, ini merupakan siklus yang berulang jauh sebelum aku hadir, dan tahukah? siklus yang terjadi padaku sesungguhnya berada pada satu tujuan. Dunia.

Beruntungnya jalan menuntunku bertemu hari dimana pergantian kisah bermula kembali. Ketika lembaran buku berisi coretan diganti dengan buku berisi lembaran bersih tanpa coretan. Rasanya aku menemukan sosok lain yang hadir di tubuhku, tanpa segan meminta pikiranku kembali mengingat peristiwa siklus yang kukenal sangat baik.

Setiap detik
Setiap menit
Setiap jam
Setiap hari
___

ternyata umurku tidak lain kujalani dengan sandiwara. Bagaimana mungkin aku tidak menyadari ini? Apakah mata yang kugunakan kurang untuk sekedar menyadari peristiwa diluar sana? Aku salah arah, langkahku seharusnya tidak sejauh ini. Yang kukejar ternyata tidak pernah benar-benar nyata, ini permainan waktu. Dunia berhasil membutakan segalanya, mengubah buruk menjadi baik.

Walaupun aku bersikeras membela diri, membenarkan setiap tindakan meskipun aku tau itu tidak akan mempengaruhi proses yang susah payah kubangun dahulu. Hatiku terlanjur ku titip ditempat yang salah, yang terlihat baik dimata saat itu tidak menjamin itu benar-benar baik pada akhirnya. Kini aku paham bukan dia yang patut ku kekejar dan bukan dia yang pantas kuandalkan mengenai hati.

Aku mengejar dunia, jika sudah begini seisi dunia akan kumiliki tetapi tidak ada tempat untukku di surga.

Aku sungguh tidak ingin menggadaikan surgaku hanya untuk dunia yang memperdaya. Aku berani bertaruh tidak ada yang akan mengasihimu ketika dunia menggetarkan bumi. Adakah diantara kita yang teguh mempertahankan harta ketika bumi memberontak mengeluh lelah?
ketika itu manusia tidak terlihat seperti manusia,
ketika itu teriakan silih berganti,
ketika itu tidak ada yang bisa menolong selain Pemilik Kerajaan Langit.

Aku salah satu manusia yang mengejar dunia hanya karena kesenangan memperdaya. Lelah kumengadu ke dunia, bahkan hatiku kupertaruhkan untuk dunia. Jika saja ada kata yang mampu menjelaskan perihnya hatiku saat ini, mengingat egoisnya manusia mempertaruhkan dunia sedangkan hidup dan mati berada di langit. Bahkan, bahasa dunia tidak mampu menjelaskan sakit ini. Bukan sakit berdarah, itu tidak ada apa-apanya. Tapi aku sakit karena takut ampunan tidak bisa aku peroleh dari-Nya.

Pikiranku mulai kemana-mana, apa yang akan terjadi jika hari itu Pemilik Kerajaan Langit menarikku dari bumi, sungguh celakalah bagiku. Apalah aku yang tidak lain pendosa bumi yang meminta nikmat langit.

Lancangnya aku mengharapkan Langit sedangkan aku berlari ke bumi.

#3 SKENARIO TENTANGMU

setidaknya ketika batinku menemukan jalan mengarah ke pintu yang sering kau bertamu, logikaku memberikan keleluasan kepada tuan hati menuntaskan penasaran yang membenak. Aku benar-benar hampir menyentuh pintu, namun entah apa dan mengapa tanganku terhenti. Rasanya ini tidak benar dan keputusan memberikan kebebasan untuk mengizinkanmu berjalan beriringan itu salah, kau menyerah.

Sekali lagi ternyata kau sama saja dengan yang lainnya. Perhatianmu yang ku simpan rapi di salah satu ruang memori favorit, seketika hancur berantakan. Ini diluar kendaliku, kalau dihadapkan kepada dua pilihan aku tidak ingin membiarkan sehelai pun runtuh bersamaan dengan tubuhku yang ikut merasakan konflik batin. Ini adalah respon yang wajar ketika sesuatu asing dari luar tubuh tiba-tiba menghunus tepat dipusat perlindunganku. Aku sungguh takjub dengan mekanisme tubuh mengekspresikan diri, ketika dalam bahaya dan ini tidak bisa dibuat-buat. Ketika kau merasa sedih mengekang bagaimana respon hati terhadap tubuhmu? tentu saja seakan-akan semuanya terlihat tidak adil bagimu saat itu, membuatmu menyendiri.

Begitulah tubuh ketika terjadi sakit di organ paling sensitif bahkan jika itu hanya kata yang tak nampak di mata bahkan tak dapat disentuh oleh jemari, tapi siapa yang bisa menjelaskan? bagaimana kata-kata itu bekerja membuat seseorang terpuruk, tersakiti bahkan keinginan bunuh diri hanya karena hal yang gaib itu. Jadi, dari sisi mana dari dirimu yang harus kupercaya? katamu pegang janjiku, bagaimana tanganku menggenggam sedangkan kau saat ini mempertimbangkan pilihan lain diluar sana? Apakah begini caramu menjalani hidup?

Janganlah mencari-cari pembenaran atas semua kesalahan. Jangan membuat dirimu terlalu pusing, bersantailah untuk waktu yang lama kedepan. Sebab untuk menjatuhkan hukuman bersalah padamu kurasa tidak berguna bagiku, dan saya rasa ini hal yang tidak asing lagi di kehidupan remaja bahkan dewasa, sudah rahasia umum.

Aku tidak ingin menyibukkan diri hanya karena kau membuat sebagian waktuku kehilangan jatah bahagia dan harus terganti dengan lamunan masa lalu yang lagi-lagi membuatku menarik napas dalam-dalam.

Mari sejenak menikmati sandiwara hidup ini, duduk beralaskan tanah, bersandarkan udara, beratapkan langit. Iring-iringan awan mengitari langit terhampar memenuhi pelupuk mata. Angin lirih meniup lembut wajah sendu, sedang termangu menyaksikan drama yang terjadi antara senja yang segera pulang untuk digantikan kehadirannya oleh purnama. Hatiku masih mampu merasakan indahnya janji itu tersaji dihadapanku. Tidak ada lisan yang berikrar tentang itu, bahkan senja ingin beranjak memberikan tempat bagi purnama terlihat sangat romantis. Tubuhku kubiarkan tenggelam bersama bayangan yang sempurna menyatu denganku, seperti inikah perasaan tulus yang seharusnya kudapatkan darimu kemarin? –aku hampir tidak tau kau sebenarnya nyata atau permainan imajinasiku saja?.

Pada akhirnya waktu benar-benar berbicara. Memperlihatkan sebagian orang tercipta sungguh benar-benar hanya untuk membuatmu belajar darinya walaupun jika ingin berargumen seharusnya kaulah yang diberi pelajaran. Datang dan pergi, aku tidak akan mengatakan seenaknya tentangmu seolah-olah kriminal nomor satu karena untuk urusan ini hukum sama sekali tak berguna. Hanya saja kedatanganmu yang membuat pikiranku tiba-tiba memutar mundur cerita diawal pertemuan, sempurna mengalihkan sebagian duniaku yang sedu sedan itu.

Aku tidak habis pikir bagaimana skenario memainkan perannya, merancang setiap detik kejadian. Hal ini sungguh jauh berbeda ketika kau beranjak pergi. Caramu meninggalkan memang tidak semenyeramkan kebanyakan orang, tetapi untukku meninggalkan atau apalah namanya tidak pernah menyenangkan terlepas dari cara meninggalkan. Apakah kau merasa nyaman ketika seseorang meninggalkanmu ? tidak. Sama sekali tidak ada yang menyenangkan.
Jika suatu hari mereka menanyakan detail kisah ini, kumohon jangan berlagak seakan-akan akulah pelakunya. Bukan karena ingin aku membela diri agar terlihat baik dimata orang. Aku hanya tidak ingin kau mengarang kisah yang sama sekali tak pernah ku lakukan.

Aku benci kebohongan yang menyebar dimana-mana, salah satunya dirimu.


-The End-

#2 KATA RINDU

“i miss you…”
“i miss you too…”

no reply.

25 days later still no reply.

Cahaya matahari senja menerabas indah bingkai jendela kamar. Berpendar-pendar jingga. Sungguh senja itu wajahku terlihat bahagia. Namun, untuk saat ini senja itu tidak berbeda jauh dari bayangan hitam yang terus menemaniku dengan rindu yang mengacaukan pikiran. Hari ini tampak berbeda dari biasanya, aku pikir sekedar mengirim text padamu itu cukup membuatmu sedikit terobati. Ternyata aku salah mengira…

Maafkan aku yang hanya mengucap kata rindu padamu. Jika kata rindu tidak cukup meyakinkanmu lantas apalagi yang harus kulakukan? mungkin kamu ada benarnya. Aku tidak mampu mengulurkan lengan ketika jarak meninggalkan rindu.
Tetapi bolehkah aku bertanya padamu? Apakah aku terlihat seperti penipu dimatamu? apakah sebegitu buruknya aku dipikiranmu? sungguh ribuan pertanyaan bersarang di otakku saat ini, dan sesaknya pertanyaan itu tak mampu ku sampaikan bahkan jika aku memohon untuk didengarkan sekali saja. Hal paling sakit saat ini bukan karena kau tak ingin mendengarkan penjelasan dariku dan tak ingin menjawab penasaranku, tetapi sekedar menanyakan kabarpun sudak tak kau tolerir lagi. Terus apa gunanya sosial media yang ku punya saat ini?

Entah pikiran darimana hingga mengira kau figuran bagiku. Bagaimana aku harus mengembalikan duniamu yang dulu di genggamanku. Aku tidak mengerti ada apa denganmu saat ini. Tiba-tiba saja memutuskan koneksi tanpa aku berhak atas penjelasanmu, ini tidak adil bagiku, dunia sungguh berpihak padamu sedang duniaku entah bagaimana kondisinya.

Wahai dirimu yang sungguh sedang kuperjuangkan, dengarlah cintaku menggema dimana-mana telah menyatu dengan ruang dan waktu. Angin bertiup semakin menambah hampa ruang saat ini. Aku tidak mengira dirimu mampu membuatku kehilangan setengah jiwa, bahagia di wajahku benar-benar telah kau curi dariku. Itu melanggar hak milik seseorang dan kau sebaiknya mengembalikannya padaku.

Apakah ini yang sering dikatakan orang-orang alay di luar sana ?
“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Benar-benar terjadi padaku.

Hidup tapi seperti mati. Terus, masihkah dapat kukatakan hidup ketika alasan untuk senyum sudah tidak bisa kutemukan?.

Terima kasih karena kau mampu membuat ku menemukan makna hidup walaupun saat ini kau pula yang membuatku kehilangan makna hidup.

Lihatlah lelucon ini, berhasil mempermainkan ku. Cinta yang setiap hari ramai diperbincangkan ini memperlakukan hatiku dengan tidak adil. Ingin rasanya ku melipat jarak darimu biar kau tau rumitnya hidupku tanpamu.

Perihal rindu aku akui, aku kalah. Kata tidak mampu menyelesaikan urusan ini bahkan 0,01 kata rindu sama sekali tidak memberikan efek bagimu. Maaf lisanku benar-benar lemah hanya sanggup bertahan sepersekian detik kemudian hilang dibawa angin entah kemana tuju nya aku tak peduli. Biar kuberitahu lagi, tindakan yang kau inginkan lagi-lagi tak mampu kuwujudkan. Sebab tanpa harus kukatakan, aku telah tau jawaban yang akan ku telan mentah-mentah, walaupun pahit. Mungkin dengan ini sedikit banyak bisa menebus kesalahan di waktu lalu.

-to be continued-

SEMBARI RINDU

—-
Semisal waktu merenggangkan kita, apakah kau mampu ulurkan lengan untuk memeluk rindu ? haha saya rasa jika iya itu hanya bualanmu saja.

seperti biasa kata-kata yang terus kau kirimkan hingga memenuhi semestaku. Sangat sering kau melakukannya -ah sepertinya bukan sering yang pantas mewakili, tetapi setiap saat. rutin. sudah seperti tubuh membutuhkan oksigen untuk tetap berpijak.

Sungguh tidak berlebihan jika aku mengatakan muak ketika mendapati dirimu semakin menggila memaksakan sesuatu yang dahulunya sukarela ku menaruh harap namun, kau acuh mengira bahwa aku sekedar figuran dan kau pemeran utama. Sadarlah bumiku berputar, waktuku malah semakin cepat menghitung, seiring dengan itu ragaku larut mengikuti perubahan.

pertama, aku telah berubah ingat itu! bukan menjadi bidadari, bukan malaikat apalagi wanita yang istiqomah mempercayai satu kata yang ampuh meruntuhkan pertahananku. Haha itu sungguh diluar pilihan dan sama sekali tidak kuinginkan terjadi.


Aku masih aku yang sangat suka membaca hingga puluhan buku, bahkan dua buku dalam sehari pun itu tidak masalah. Yang berubah adalah apa yang kemarin sangat kupercaya kini mengingat kembalipun aku sungguh tidak ingin. Namun pada akhirnya mengucap terima kasih masih mampu ku sampaikan, karena sekurang-kurangnya luka yang kemarin memahamkan semestaku satu definisi yaitu sadar bahwa tidak semua manusia di dunia mudah dipercaya, sekalipun kerasnya argumen antara logika dan batin untuk meng-iyakan setiap sanjungan, tapi pada akhirnya entah berasal dari sudut mana yang mengabaikan keduanya sehingga kata tidak seolah-olah jawaban mutlak untuk setiap kalimat yang kau rangkai.

***

Ingatlah aku tidak menyalahkanmu, ibumu, ayahmu, adikmu, dan keluargamu yang lain. Tapi kalau boleh berceritalah kamu tentang wanita yang pernah kau buat kecewa ke salah satu orang tua mu biar kau tau ini bukan tindakan yang terpuji.

-wil be continued-

Baca lebih lanjut

BELIEVE ?

mengenai hati saya tidak tahu banyak. Namun sang Pemilik Hati sungguh mengetahui segalanya. Sebagai fitrah manusia, cinta diberikan kepada masing-masing batin dalam raga. Saya kira problema hati tentang cinta sudah rahasia umum bagai lautan luas, mungkin berada di timur, kemudian di barat, kemudian utara dan juga selatan. keberadaannya berbeda namun rasanya tetap sama. Asin.

Adakah yang masih tersimpan di memori kapan terakhir kali cintamu terasa dipatahkan oleh seorang pemuda ? ataukah patahnya masih belum terpulihkan hingga saat ini? tidak masalah manusiawi ketika hati terasa begitu perih, ketika hati mampu membekukan pandangan seolah membatu tak peduli sekeliling bahkan lawan bicara sudah tak dihiraukan kehadirannya. Pergilah kesudut ruangan, menjauhlah dari keramaian. Tidak usah memaksakan terlihat bahagia dengan menghibur diri di sela-sela keramaian namun tak sepeserpun hati mu merasa terhibur. Menangislah sejadi-jadinya diatas sajadah sementara tangan menengadah mencari perhatian Maha Pemilik Hati. Allah the most great, jika kau ingin paham Allah tidak pernah mengecewakan, Allah sekali-kali tidak pernah menolak rintihan panggilanmu sekalipun dosa memenuhi lautan. Lihat! betapa tidak ada yang mampu memuliakan manusia kecuali Allah Maha Mulia.

Ingatlah cinta yang kau kejar melukai, sedang cinta kasih orang tuamu tak pernah kau sadari kehadirannya. Mari sama-sama menyadari betapa hinanya diri ini. Ingatlah wahai pengikut Rasulullah kapan terakhir kali kau melakukan hal yang sama kepada orang tuamu dengan apa yang kau lakukan saat dulu ? it is not a love if broke your heart

RENTANG JEJAK

Dimulai ketika jarak tidak begitu mengkhawatirkan, mengenali setiap karakter hingga berdiskusi berkepanjangan. Rutinitas mulai membiasakan waktu berada pada porsinya, tak saling mengingatkan apalagi menegur namun saling tahu keadaan dan batasnya. Riuh rendah tawa dan canda memenuhi langit-langit kelas seperti tidak ingin waktu memutuskan menambah jumlahnya. Ada yang berkumpul mempermasalahkan sebuah statement yang sungguh bukan suatu yang bermasalah, terlihat pula satu dua orang lebih memilih menyendiri sekedar menatap lapangan luas, ataupun tertidur di bangku (tapi dibangku orang lain) mendengarkan alunan musik, membaca buku sambil sesekali melirik jam dinding, adapula yang hanya tertegun berdiri mengamati satu titik (entah dia tak punya teman, tak ingin ditemani, sengaja ingin menyendiri atau memiliki sahabat tak terlihat oleh mata manusia biasa ehe), bermain game (welkomtu mobaillejen apakah masih trend?), menghabiskan jajan atau bekal teman, bahkan ritual minta sesuatu akan sedikit berbeda di kelas ini (makan dulu baru minta). HAHA hal ini sering terlihat ketika bel istirahat menyambut.


jangan salah! dengan ruangan yang hanya menampung 38 orang, kalian bisa menemukan banyak hal. Mau ketemu orang ter-pede? ADA, ter-sokcantik? ADA, ter-typo? ADA, ter-tinggi? ADA, ter-gesrek? ADA, ter-ngartis? ADA, raja/ratu tidur? ADA, suara yang bikin seisi kelas tenang dulu, baru satu lirik keluar langsung “aaaaa”? ADA, makanlovers,k-pop lovers jangan ditanya, saya sampai bingung harus menjelaskannya dari sisi mana karena mereka terlihat unrasional tapi menghibur wkwk, cowok rasa cewek/cewek rasa cowok? ADA, ter-cantique?ADA, suka koar-koar teriak gajelas ini sungguh semuanya melakukan, and last but not least TERGAJE:) ADA BANGETT GENGS, sampai jangkrik pun akan memanggil rombongan paduan suara buat meramaikan ketidakpahaman kami.


Jangan sebut bahagia saja yang hadir dalam jejak ini. Sedih,tangis,haru,pertengkaran dan semua kesedihan-kesedihan lainnya turut serta meramaikan histori saat itu. Namun, bukan cerita yang menarik ketika warna yang lain tak ikut bergabung membentuk gradasi yang terlukis oleh waktu. Saya akui ini bukan sekedar statement “solidaritas” dan ini sudah terbukti dari setiap manusia yaang hadir dengan banyak pendapat, kritikan dan semua umpatan yang cukup mengerikan mampu dilalui dengan satu kata “ikhlas” and it will be ok at all. Dengan 38 nyawa yang mengisi kubus raksasa, lalu lalang memenuhi setiap sisi, setiap saat itu juga 38 karakter yang saling berinteraksi.

butuh beribu lembar untuk menuangkan kenangan yang telah lalu dan saya rasa waktu pun tidak mampu memberi kesempatan. Namun sedikit dari sekian banyak cerita ini mampu mengingatkan banyaknya sesi hidup yang telah dilalui, dan kita sadar bahwa kita pernah berada di posisi seperti itu.

Canda tawa tangis sedih yang rasanya baru kemarin dilalui saat ini sudah tidak sama lagi, dan 3 tahun terbiasa bersama ampuh membekukan hati di ruangan itu, hingga saat ini kita pun sering menyadari bahwa ternyata cerita kemarin telah usai rasanya baru saja dilalui eh sekarang sudah berbeda situasi.

***

Tawa yang kemarin sudah digantikan tawa orang asing yang kelak menemani hingga 4 tahun kedepan. sedih yang kemarin sudah berbeda dengan pilu yang sudah-sudah. Bertemu orang baru, pembahasan baru, dan tentunya bertemu karakter yang baru.

Lengang kemarin yang membuat kita berfikir kita sudah di penghujung untuk meninggalkan masa putih abu-abu, sambil kembali mencoba memutar memori yang luar biasa. Kebiasaan kemarin segera hapus cobalah move on. Hidup terus berputar jangan diam ditempat. Saya yakin kita akan dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda namun dengan kebiasaan yang sama. Lekaslah mengejar apa yang pantas diperjuangkan (bukan doi yah), Doa-mu, Doa-ku, Doa-kita semoga didengarkan Allah.

Special Thanks for our Mother Hasniah Saleh, S.Pd and her husband. And thanks too, for every teachers, ilmumu semoga bermanfaat dan sehat selalu.

SELAMAT BERKEHIDUPAN YANG BARU.

don’t forget to follow @repostsmansa_